07 Maret 2011

Pulang Kampung dengan GPS Tracking (1)

Sudah satu bulan lebih saya tidak pulang kampung. Akhirnya dapat kesempatan juga pulang kampung menjumpai anak dan istri tercinta.

Iseng-iseng saya mencoba fasilitas aplikasi Android telepon genggam saya My Tracks. Sebuah aplikasi yang merekam jejak GPS dan menampilkan statistik seperti waktu, jarak, kecepatan dan elevasi (ketinggian dari permukaan air laut). Rekaman jejak GPS ini dapat di upload pada akun Google anda dan anda dapat membagi tautannya kepada teman-teman anda di Twitter, Facebook dan situs jejaring sosial lainnya.

Saya membaginya menjadi beberapa stage, dengan alasan agar mudah dibaca dan dinikmati perjalanan ini, juga karena saya harus merestart perekaman jejak GPS karena di titik tertentu bus yang saya tumpangi berhenti begitu lama sehingga saya mematikan GPS untuk menghemat daya baterai.

Stage 1

Perjalanan ini saya mulai saja dari pelataran parkir Bandara Soekarno Hatta (biasa disingkat Bandara Soetta) di Cengkareng. Kendaraan yang saya gunakan adalah Bus Damri jurusan Harapan Indah Bekasi via Pulogadung, dengan ongkos jauh dekat Rp.30.000,00.


Lihat Stage-1 di peta yang lebih besar

Bus yang saya tumpangi sempat memutar satu kali lagi untuk menaikkan penumpang. Sejauh saya lihat, bus jurusan ini penumpangnya tidak seramai bus jurusan yang lain, yang mana mereka hanya sekali putaran menjemput penumpang di terminal 1 dan 2 dan sesekali ke terminal 3, sedangkan bus jurusan Harapan Indah memerlukan dua kali putaran untuk memenuhi kursi-kursinya dengan penumpang.

Saya sengaja mengambil jurusan ini, karena saya harus menuju Terminal Bus Pulogadung, yang ketersedian armada bus-nya yang banyak, dibandingkan dengan armada bus di terminal lain. Tak menunggu lama bus yang asaya tumpangi berangkat, sialnya kursi yang sudah saya tempati digusur orang, karena saya harus nebeng meng-charge telepon genggam saya yang memang haus daya apalagi saya berniat menyalakan aplikasi GPS sepanjang perjalanan di kantor PO Dewi Sri yang bus-nya saya tumpangi malam itu. Dengan sangat terpaksa saya harus duduk di bangku cadangan di depan, menemani supir dan kernet bergadang sepanjang malam.

Ya sudahlah, akhirnya saya merekam perjalanan stage ke dua malam itu sambil mencoba menikmati perjalanan di "bangku" paling depan bus ini.

Stage 2

Hari sudah semakin malam saat bus menyusuri Jalan Raya Bekasi sehingga perjalanan cukup lancar di sini. Jika anda melewati jalan ini saat jam pulang kantor, dapat dipastikan anda akan menghabiskan banyak waktu di sini, di samping karena jalan ini merupakan akses jalan menuju kota-kota satelit yang bertebaran di Bekasi, juga karena adanya kawasan industri tempat hilir mudik truk-truk berukuran besar yang berjalan lambat ataupun harus memutar memasuki area pabrik.


Lihat Stage-2 di peta yang lebih besar

Bus memasuki Pintu Tol Cakung dan dengan cepat menyusuri Tol Lingkar Luar jakarta (jakarta Outer Ring Road - JORR) dan dengan segera pula memasuki Jalan Tol Jakarta Cikampek.

Total perjalanan stage-2 ini adalah sejauh 59.59 km sebelum bus harus berhenti di sebuah SPBU di Rest Area Tol Jakarta Cikampek di km 57.

Berikut data statistik Stage 2 yang berhasil direkam aplikasi My Tracks

Total Distance: 59,59 km (37,0 mi)
Total Time: 1:07:07
Moving Time: 1:02:15
Average Speed: 53,26 km/h (33,1 mi/h)
Average Moving Speed: 57,42 km/h (35,7 mi/h)
Max Speed: 92,70 km/h (57,6 mi/h)
Min Elevation: 21 m (70 ft)
Max Elevation: 67 m (220 ft)
Elevation Gain: 187 m (615 ft)
Max Grade: 6 %
Min Grade: -7 %




02 Maret 2011

"Menempel" foto lebih mudah dengan Google Latitude

Jika anda suka berjalan-jalan ke penjuru dunia di dunia maya, maka anda tidak akan merasa asing dengan Google, dengan segala fasilitasnya. Lewat maps.google.com anda sperti melihat langsung dari sebuah balon udara yang dengan sesuka hati bisa anda arahkan ke mana pun ke seluruh penjuru dunia. Atau dengan Google Earth anda bisa menginstall seluruh dunia dalam PC anda. Perbedaan keduanya adalah, Google Earth tidak harus melulu tersambung koneksi internet, sedangkan maps.google.com, anda harus membukanya lewat jendela browser anda. Google Earth hanya akan menampilkan cookies, atau tempat-tempat yang pernah anda buka sebelumnya, saat anda membukanya tanpa koneksi internet.

Di dalam kedua layanan Google ini, ada bebagai macam fasilitas yang dapat anda nikmati. Mulai dari Streetview, yang dapat menempatkan diri anda seolah-olah anda sedang berada di tepi jalan sesungguhnya, dengan pemandangan yang dapat diputar 360°,juga dengan foto-foto yang telah ditandai pada peta yang telah di sediakan oleh Google.

Penandaan foto ini disediakan oleh pihak ketiga di bawah layanan Google yaitu Panoramio.com. Dengan panoramio kita bisa menandai lokasi, tempat di mana kita mengambil foto dan menampilkannya di Google Earth. Untuk login pada situs ini dapat menggunakan ID dan password Google anda. Jika anda belum memilikinya, anda bisa mendaftar gratis

Seiring dengan kemajuan teknologi makin berkembang pula kemudahan-kemudahan dalam penandaan foto di Google Earth.

Anda tinggal menginstall Google Latitude di gadget anda. Saya tidak terlalu paham apakah kamera biasa ataupun kamera profesional bisa memiliki fasilitas ini apa tidak. Saya memanfaatkan Sony Ericsson X10 mini pro saya. Kebetulan fasilitas Google Latitude sudah terinstall saat saya membelinya. Jika belum tersedia aplikasi tersebut, anda bisa mengunduhnya di sini, atau jika telepon genggam anda berbasis Android, anda bisa mencarinya di Android Market. Untuk Iphone anda bisa mencari aplikasi ini di AppStore. Untuk gadget lainnya, baik itu Blackberry, HP dengan basis Windows Mobile atau pun OS lainnya anda bisa mengakses google.com/latitude pada browser anda untuk menginstall dan mendapat petunjuk lebih lanjut di sana.

Google Latitude memungkinkan Anda untuk berbagi lokasi Anda dengan teman dan melihat lokasi mereka di peta. Bila diaktifkan, Google Latitude History memungkinkan Anda untuk menyimpan lokasi Anda sebelumnya dan ini memungkinkan Anda untuk menyesuaikan foto Anda dengan lokasi yang disimpan dalam history Google Latitude.

Dengan menggabungkan Panoramio dan Google Latitude foto Anda mendapatkan geo-tag secara otomatis sebagai cap waktu foto yang cocok dengan catatan lokasi Anda dalam Google Latitude History. Untuk menggunakan fitur ini Anda harus mengaktifkannya di halaman Settings Anda di Panoramio. Dengan izin Anda, Panoramio akan mengakses Google Latitude History untuk mengetahui lokasi Anda pada saat foto diambil, jadi pastikan waktu pada kamera Anda sudah benar dan cocok dengan nilai yang dimasukkan di halaman Settings Panoramio Anda.

Hal penting lainnya dalam pengaturan ini adalah untuk tidak lupa mengaktifkan fasilitas info posisi yang ada pada setelan kamera telepon genggam/gadget anda.

Sebelum ada fasilitas ini, anda harus mengingat-ingat di mana anda saat pengambilan gambar/foto berlangsung, kemudian Anda mencarinya sendiri di Peta Google, baru kemudian secara manual menandai letaknya di peta tersebut. Jika pengambilan gambar berada di kota, biasanya tidak akan terjadi masalah, karena Anda dapat mengingat di mana anda saat itu dengan mengenali jalan, bangunan dan tempat-tempat menarik yang ada di sekitar anda. Namun akan jauh lebih sulit jika pengambilan gambar di pedesaan, apalagi Anda baru sekali-dua kali melewatinya.

Terima kasih kepada Google Latitude, sekarang saya hanya meng-upload saja, tanpa khawatir harus mencari-cari lokasinya kembali di Google Earth, foto saya akan secara langsung ditandai begitu saya selesai meng-uploadnya.

Tak lupa kunjungi foto-foto saya di sini.

28 Februari 2011

Jalur alternatif Pangkalpinang - Koba

Jarak Pangkal Pinang - Koba yang tak seberapa jauh membuat banyak orang yang "nglaju" bila bekerja di kedua kota tersebut. Ada orang Pangkal Pinang yang bekerja di Koba, juga orang Koba yang bekerja di Pangkal Pinang. Kebanyakan dari mereka adalah Pegawai Negeri Sipil. Hal ini bisa dilihat setiap pagi di depan RSUD Depati Hamzah sebagai meeting point para PNS penglaju.
Jalur ini merupakan jalur padat, dengan berbagai kendaraan baik niaga maupun pribadi yang lalu-lalang melintasinya. Tak sedikit pula kendaraan roda dua juga digunakan para penglaju.
Pelebaran jalan di jalur ini dilakukan kurang lebih tahun 2008. Dari sebelumnya sangat pas untuk kendaraan roda empat yang berpapasan, sekarang agak lebar walaupun belum sampai empat lajur jalan (dua di kanan dua di kiri).

Jalur alternatif sebagaimana judul tulisan ini tidaklah total alternatif, hanya sebagian saja, kurang lebih separuh jalan lah dari total 60 km Pangkal Pinang - Koba.
Jika anda berkendara dari arah Koba, entry point jalur ini berada di desa Namang, sebelah kanan jalan. Ada penunjuk jalan "Makorem 045" di sana, dengan jarak sekitar 4,5 km.

Begitu anda membelokkan kendaraan anda masuk jalur alternatif ini, anda akan disuguhi rindangnya pepohonan di kanan kiri jalan, yang akan berujung di sebuah lapangan bola yang biasa digunakan warga sekitar.
Selepas lapangan bola, pemandangan didominasi kebun-kebun warga yang ditanami tanaman-tanaman pendek, seperti nanas, sawit yang baru ditanam, tak jarang pula kebun-kebun karet.
Jika anda menggunakan kendaraan roda dua, akan sangat terasa sekali kenikmatan jalur alternatif ini. Jalan aspal hotmix mulus dengan jalan yang berkela-kelok emnambah keasyikkan berkendara.
Tapi jangan lengah mendekati Makorem yang tanda penunjuk jalannya kita temui di awal jalur ini, anda akan menemui speedbump, alias polisi tidur yang cukup kasar, kasar dalam artian dibuat tidak dengan standard pembuatan polisi tidur yang benar yang akan membuat kendaraan anda terguncang hebat jika anda melewatinya dengan kecepatan diatas 50 km/jam. Jadi anda harus mengurangi kecepatan begitu memasuki km 4 dari awal anda masuk tadi.
Sangat disayangkan pihak pembuat polisi tidur tidak membuat tanda-tanda bahwa di muka akan ada polisi tidur, sehingga mungkin orang-orang yang baru pertama kali melewati jalur ini akan terkejut, karena terbawa kondisi kecepatan kendaraan yang tinggi melewati jalan yang mulus berhotmix ini. Semoga setelah tulisan ini dibuat sudah ada penandanya.
Jalur alternatif ini cenderung sangat sepi, hanya satu-dua orang saja yang melewati jalur ini, sehingga mungkin maksud pembuat polisi tidur ini agar pengendara yang melintas tidak berkendara dengan kecepatan tinggi saat melewati Makorem 045.
Selepas Makorem 045, anda bisa menikmati kembali berpacu di jalur ini. jalan berkelak-kelok tetap tersaji di hadapan anda, tentu saja dengan aspal yang mulus. Anda juga bisa menguji kecakapan cornering anda, menguji mental anda juga. Saya sarankan tetap berhati-hati dengan tidak memacu kendaraan anda terlalu cepat, karena anda tidak akan menyangka apa yang melintas di hadapan anda.
Jalur alternatif ini tidak menyusur pantai seperti jalur Koba - Penyak. Satu-satunya jalan yang menyusur pantai berada di Desa Bhaskara Bakti yang masih termasuk ke dalam Kecamatan Namang.

Pantai ini berupa teluk kecil yang ditumbuhi tanaman bakau. Di kejauhan tempak beberapa ponton tempat para pekerja TI mengais rejekinya di tepian pantai.
Jalan yang menyusuri pantai ini tidak terlampau panjang, hanya sekitar 100 sampai 200 meter, setelah itu anda akan memasuki pusat Desa Bhaskara Bakti. Jika cuaca mendung dan basah, kabut akan muncul sepanjang jalan ini.
Kelok-kelok jalan tidak berhenti sampai sini, selanjutnya anda akan seringkali menemui tikungan-tikungan patah yang memaksa anda menurunkan kecepatan. Hati-hati juga dengan pasir yang biasanya mengumpul justru di titik paling krusial di tikungan. Memang beginilah tipikal jalan di Pulau bangka, tak jauh-jauh dari pasir.
Setelah desa Bhaskara Bakti, anda akan memasuki desa Kayu Besi.

Markas Komando Brimob ada di desa berikutnya yaitu Desa Tanjung Gunung. Berada di puncak bukit Mako Brimob Polda Babel ini terlihat sangat megah, apalagi dilihat dari kejauhan.

Jika anda sudah sampai sini, anda hanya perlu mengikuti jalan ini, dan tidak perlu mengambil persimpangan-persimpangan yang ada. Terakhir anda akan menemui belokan tajam ke kanan (bukan persimpangan, hanya sebuah tikungan) yang cukup ramai, dan terdapat sebuah SPBU di sudut pertigaan setelah tikungan tadi. Ini sudah termasuk Desa Benteng yang masuk dalam Kecamatan Pangkalan Baru Bangka Tengah. Koordinat -2.16986, 106.176338.
Dari pertigaan SPBU ini, ambil jalan ke kiri. dan setelah sampai Puskesmas Benteng akan ada pertigaan lagi. Ini pilihan buat anda, jalan ke kiri anda akam memasuki kota Pangkal Pinang melalui kompleks Perkantoran Pemerintah Provinsi Bangka Belitung, sedang jalan ke kanan anda akan disuguhi perumahan-perumahan sepanjang jalan di Desa Sampur dan Air Itam, kedua jalan ini akan bertemu kembali di pintu masuk komplek perkantoran tersebut dari arah Kota Pangkal Pinang.

Demikianlah rete jalur alternatif Pangkal Pinang - Koba, mohon maaf jika rute berawal dari arah Koba, bukan dari Pangkal Pinang. Selamat jalan-jalan......


update : link GPS Traking

Published with Blogger-droid v1.6.8