09 November 2012

Peredam Kejut pada Sepeda Motor (1)


Biasa diistilahkan sebagai suspensi, memiliki dua fungsi utama, yaitu berperan dalam handling dan pengereman dan berfungsi menambah keamanan dan kenyamanan pengendara dari kondisi jalan yang tidak rata, dan getaran mesin.

Suspensi Depan

Bentuk jamak dari suspensi depan pada sepeda motor berupa fork, suatu bentuk yang menyerupai garpu. Sebelumnya suspensi depan masih menggunakan frame dengan per-peran.
http://www.flickr.com/groups/veteran_motorbikes/pool/?view=lg
Ada juga suspensi depan menggunakan swing arm (lengan ayun), ada pula yang menggunakan versi satu sisi (single sided) seperti pada vespa.

1. Telecospic Fork
http://www.bikerenews.com/Stories_Archives/Motorcycle_suspension/Motorcycle%20Suspension.htm

Telescopic fork digunakan pertama kali oleh produsen sepeda motor merek Nimbus di tahun 1934. Bentuk suspensi ini paling banyak digunakan pada sepeda motor jaman sekarang. Teleskopik fork berupa tabung berisi komponen peredam yang dapat berupa minyak, udara maupun per-peran (coil spring).

Keuntungan penggunakan suspensi teleskopik adalah  (i) desainnya mudah dan murah dalam pembuatannya, (ii) lebih ringan dari desain peredam kejut depan sebelumnya yang berupa komponen eksternal dan sistem linkage, (iii) menjadikan motor kelihatan lebih simpeldan penampilan yang lebih baik.

Biasanya suspensi teleskopik berupa bagian tetap yang menempel pada segitiga pada frame depan sepeda motor dengan dihubungkan dengan komstir. dan bagian bebas/active fork (yang secara bebas terayun) yang menempel pada as roda depan.
http://designandbuildingcustommoto.wordpress.com/2011/03/26/motorcycle-front-ends/
Dibeberapa motor sistem ini terbalik, yang aktif bergerak berada di atas sedang bagian tetapnya (biasanya berupa silinder mengkilap) berada di bawah menempel pada as roda.
http://designandbuildingcustommoto.wordpress.com/2011/03/26/motorcycle-front-ends/
Ada beberapa keuntungan pada sistem yang terbalik atau yang lebih dikenal dengan suspensi Upside Down (USD Fork) ini antara lain (i) Gravitasi menyebabkan lubrikasi bekerja maksimum (lihat gambar penampang fork di atas), minyak dipaksa menempel pada seal dan inactive fork, yang hasilnya suspensi bekerja lebih halus. (ii) Debu, lumpur atau batu-batu kecil tidak menumpuk pada seal yang nantinya akan menggores bagian inactive fork, bandingkan dengan fork konvensional, lumpur dapat mengendap kaena gravitasi di bagian seal ini. (iii) Lebih kuat, karena bagian yang bebas bergerak/active fork yang lebih besar menempel pada rangka dan komstir, bandingkan dengan fork konvensional dengan bagian yang bebas lebih kecil menempel pada rangka. (iv) mengurangi bobot unsprung weight, nggga tahu perses makanan apa itu unsprung weight, tapi menurut pendapat awan saya dari baca link wikipedia tersebut, unsprung weight itu bobot semoa komponen kendaraan tanpa ditopang suspensi saat kendaraan diam. (v) menambah  torsional stiffness, apalagi itu, menurut pendapat awan saya lagi, itu adalah kelenturan kendaraan, pernah kan anda mengendarai sepeda yang bersuspensi tetapi setelannya terlalu kendur?tidak enak bukan, karena laju sepeda tidak maksimal karena mental-mentul terus. :D

Kelemahannya, jika sealnya sudah tidak beres minyak dalam damper atau bagian tetap/active forknya maka minyak peredam dapat merembes habis tanpa disadari. Kelemahan berikutnya, biaya pembuatannya lebih mahal daripada fork konvensional.

2. Springer Fork

http://designandbuildingcustommoto.wordpress.com/2011/03/26/motorcycle-front-ends/

Springer fork terdiri dari dua set fork. Satu set menempel pada frame/komstir, satunya bergerak bebas mengayun mengikuti kontur jalan yang diterimanya dari as roda. Springer fork seperti gambar di atas banyak digunakan pada motor-motor dengan suspensi depan yang panjang, semisal tipe motor chopper. Ini memang keunggulan sistem fork ini, mau panjang berapapun tidak berpengaruh pada handling karena ada dua set fork yang bekerja dan sistem kejut berada di dekat frame yang berarti di dekat pusat kekuatan motor itu sendiri.

3. Girder Fork
http://designandbuildingcustommoto.wordpress.com/2011/03/26/motorcycle-front-ends/
Meskipun tidak sepopular teleskopik dan springer fork, girder fork lebih dulu digunakan sebelumnya selama beberapa lama. Sistem girder fork lebih rigid (kaku) dibanding springer fork walaupun ada kemiripan bentuk dan sistem. setiap sisi dilas langsung di atas dan di bawah pada active link-inactive link. Semua pergerakan ada di dekat komstir. Per-peran ditautkan pada bagian atas komstir.
http://rtwwithnoah.blogspot.com/
desain fork ini digunakan oleh motor pabrikan italia Moto Guzzi.

4. Trailing Link Fork

Trailing link meredam goncangan dari roda pada link (susunan konstruksi tambahan) yang bergerak bebas dan berporos di depan  as roda. Digunakan di kebanyakan Indian Motorcycle, juga digunakan oleh BMW pada motor-motor awalnya.


Suspensi depan pada motor keluaran vespa dapat digolongkan sebagai trailing link juga.
roda depan vespa
demikian juga landing gear depan sebuah pesawat.

5.  Leading Link Fork

Seperti trailing link, leading link juga memakai susunan konstruksi tambahan yang memiliki poros. Bedanya leading link tidak langsung bertumpu pada as roda, tetapi ada semacam buritan tempat peredam dan susunan tambahan itu ditambatkan (susah nyari kata-katanya, karena saya bukan orang teknik, lihat gambar saja deh :D)
wikipedia
Sampai sekarang yang memakai suspensi jenis ini adalah motor Ural, sebuah merek keluaran Rusia yang memiliki sidecar yang menempel di samping motor. Motor yang sama pernah saya ceritakan pernah (sedang) menjelajahi Indonesia di postingan sebelumnya
Ural Motorcycle
Roda depan Ural
Contoh penggunaan suspensi jenis ini ada pada motor-motor lawas yang beredar di Indonesia tahun 80-an ke bawah, dimana letak suspensinya berada di bawah, berdekatan dengan as roda. Efek yang dirasakan saat menggunakan suspensi jenis ini adalah setang agak berasa naik saat akselerasi :D
http://www.bikeexif.com/honda-c70-passport

6. Earles Fork

Earles Fork merupakan variasi dari leading link fork, hanya saja titik porosnya berada di belakang roda depan. Dinamakan Earles Fork karena yang mematenkan fork jenis ini adalah Ernest Earles, seorang berkebangsaan Inggris. Variasi ini disebabkan ujung sepeda motor mengangkat (saat pengereman keras - suatu reaksi dari kerja teleskopik yang menekan ke bawah. Dengan suspensi jenis ini gejala roda depan ambles bisa diminimalisir. Baik Leading link  maupun Earles didesain untuk motor yang bertandem (memiliki kereta tempel di sampingnya).
dari wikipedia
struktur Earles Fork
Yang berwarna panah hijau adalah leading arm, titik poros digambarkan warna panah merah. Fork digambarkan warna panah biru dan suspensi berwarna panah hitam.

7. Telelever Fork

Nama aslinya adalah Saxon-Motodd, telelever adalah nama yang diberikan BMW dalam marketing motor-motor yang memakai suspensi ini. 
gambaran telelever
Suspensi jenis ini menambahkan swingarm tambahan yang menempel pada frame dan fork. Penggunaan suspensi jenis ini menyebabkan motor akan mengangkat saat pengereman dibandingkan dengan suspensi fork konvensional yang biasanya menurunkan bagian depan motor. Semua motor BMW yang bermesin boxer menggunakan telelever fork pada suspensi depan mereka.

bmw motorrad
Saat menghantam lubang di jalanan, daya redam suspensi diteruskan balljoint pada swingarm tambahan tersebut ke frame. Salah satu keuntungan terbesar sistem suspensi ini adalah tak perlu ada tambahan anti-dive sistem saat pengereman. Keuntungan lainnya adalah kerja bearing pada komstir berkurang sangat drastis. Jika anda menggunakan motor dengan suspensi depan seperti ini, anda harus membiasakan diri pengereman tanpa gejala penurunan setang.



8. Duolever Fork

Dikembangkan oleh Norman Hossack dan dipakai pertama kali oleh pembalap Claude Fior dan John Britten, sehingga suspensi ini dikenal dengan nama Hossak/Fior Fork. Dan oleh BMW yang seakan tidak puas dengan teknologi telelevernya diembangkan lagi dan diberi nama Duolever fork. 
duolever
Diperkenalkan pertama kali di tahun 2004 pada motor sport turingnya K1200S.
wikipedia
Duolever digambarkan sebagai sendi persegi dimana dua trailing link yang terbuat dari besi tempa terpasang melalui bantalan/bearing yang bergerak pada frame. Trailing link ini, yang secara visual kerjanya menyerupai fork konvensional, menghubungkan semacam swingarm yang menempel pada roda yang terbuat dari cetakan aluminum yang keras dan kaku. Central Strut, yang menempel pada frame tampat menempel suspensi menyambung ke bagian bawah dua trailing link tersebut. Jadi tidak seperti sepeda motor konvensional, sepeda motor dengan suspensi ini swingarm roda depannya kaku, tidak mengayun sebagaimana sepeda motor konvensional.

Suspensi ini tidak mempengarungi proses steering alias bekerja independen, kerja steering diserahkan pada trapesium shear joint yang terhubung pada control head dan swingarm roda depan. Jika dilihat di gambar adalah sebentuk besi trapesium yang tegak lurus dengan swingarm.


Keuntungan dari inovasi ini adalah kekakuan torsional. Suspensi duolever tidak terpengaruh gaya negatif seperti fork  konvensional dimana tabung geser dan tabung tetapnya bergerak secara horizontal maupun vertikal selama memantul karena goncangan dan pengendalian kemudi. Dua trailing link ini meredam gerakan memantul karena goncangan, dan menjaga swingarm depan tetap stabil. Perintah kemudi pengendara dikonversi langsung dan roda depan memberi respon yang pasti dalam setiap kondisi medan jalan.

Keuntungan lain adalah efek anti-dive kinematik. Hal ini tercapai, seperti pada telelever, dengan penataan yang terukur bantalan/bearing trailing link. Pada saat dimana pengereman mendadak pada konvensional fork tertekan habis atau bahkan terkunci, duolever masih ada ruang untuk untuk pergerakan suspensi, sehingga pengendara masih memiliki tambahan waktu mengerem pada tikungan tanpa mengorbankan stabilitas arah kendaraannya.

videonya dapat dilihat di sini

9. Single-sided

Selain menggunakan fork, ada juga motor yang memiliki suspensi depan satu sisi saja, contoh motor vespa.



Diterjemahkan secara bebas dari berbagai sumber berikut :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar