07 Oktober 2012

Radio

Halo pembaca, setelah dua-tiga bulan tidak menulis, saya akan membahas gadget yang sudah lama diabaikan.

Radio, pada jamannya dulu merupakan trendsetter, ibarat menggunakan istilah sekarang, ngga ndengerin radio nggak gaul. Di setiap kota ada stasiun-stasiun radio unggulan yang selalu jadi panutan stasiun lain dalam pengisian acaranya.

Acara yang paling ditunggu biasanya adalah acara puter lagu request-an para pendengar, yang biasanya pula dikasih bonus kirim-kirim salam. Dulu saya juga suka mendengarkan artis yang baru meluncurkan album dan promo ke daerah saya dengan mengadakan konser. Nah pasti malam sebelumnya atau setelahnya diwawancara tuh si artisnya.

Ada suatu memori yang terlewatkan oleh saya. Beberapa radio masih menyiarkan sandiwara radio yang saat itu saya belum terlalu suka mendengarkan radio jadi tak banyak ingatan saya tentang sandiwara radio klasik yang dulu pernah diputar di radio.

Dulu ada Tutur tinular, Misteri Gunung Merapi dan sandiwara silat lainnya yang tak banyak saya dengarkan. Belakangan saat saya kuliah di Jurangmangu saya suka mendengarkan sandiwara radio buatan Bens Radio setiap hari Senin malam Selasa. Judulnya "Ngontrak". Saya suka sekali dengan lagu pembukanya, tapi sampai sekarang saya cari-cari mp3-nya di internet belum ketemu. Ceritanya berkisah jurangan kontrakan (tipikal orang betawi sekarang) yang punya beberapa petak rumah kontrakan. Walaupun ceritanya ublek-ublek di sekitar kontrakan tapi selalu menawarkan cerita segar dan nggak ngebosenin.

Mendengarkan sandiwara radio mengasah imajinasi kita. Kita disuguhi suara-suara tanpa wujud yang dengan bebas bisa kita imajinasikan, bagaimana ya muka si anu kalo dia sedang berkelahi, bagaimana sih jurus-jurus yang dilancarkan si fulan, apa warna kuda Nenek Lampir, dan sebagainya dan sebagainya. Dengan mendengarkan sandiwara radio pendengaran kita diasah dan telinga kita dimanjakan.

Saat jaman televisi hadir radio agak ditinggalkan. Terutama di daerah-daerah Stasiun-stasiun radio yang tak tahan gempuran gulung tikar. Pendapatan dari iklan tak lagi mencukupi operasional. Orang-orang lebih suka menonton televisi. Tapi tidak di ibukota, radio tetap jadi primadona, terutama bagi komuter yang berpegian dini hari untuk bekerja dan pulang malam hari ketika pulang. Waktu mereka dihabiskan di jalan maka radio tetap jadi hiburan utama, apalagi beberapa channel menyediakan info lalu lintas yang sangat berguna bagi para komuter ini. tapi begitu komuter ini turund ari mobilnya, masihkah mereka mendengarkan radio?sepertinya tidak. Mereka mendengarkan radio supaya rasa stres di jalan teralihkan, karena menonton televisi saat nyetir tidak mudah dinikmati daripada ndengarkan radio.

Berbicara tentang radio, ada sebuah lagu yang meramalkan tersingkirnya radio dari ruang dengar kita. Radio Gaga-nya Queen.


Lagu ini dirilis Januaari 1984, setelah direkam di tahun sebelumnya. Laagu ini mengomentari televisi yang menyalip popularitas radio. Oleh pengarangnya judul lagu ini semestinya "Radio ca ca" (yang diucapkan oleh anak balita si pengarang lagu), bahkan di kaset originalnya tertera Radio ca ca sebagai judul lagu ini.

Dalam lagu ini ,radio merupakan satu-satunya sumber pengetahuan (And everything I had to know
I heard it on my radio). Bahkan dalam lagu ini diabadikan dua peristiwa di abad 20. Di tahun 1938 pernah muncul sandiwara radio yang berjudul The War of the Worlds yang diadaptasi dari novel H.G.Wells dengan judul yang sama (You gave them all those old time stars, Through wars of worlds - invaded by Mars). Dan juga ucapan Winston Churcill "this was their finest hours" dalam You've yet to have your finest hour. yang merujuk pada orang Inggris sendiri pada kalimat lengkap yang diucapkannya "Let us therefore brace ourselves to our duties, and so bear ourselves, that if the British Empire and its Commonwealth last for a thousand years, men will still say, This was their finest hour."

We watch the shows - we watch the stars
On videos for hours and hours
We hardly need to use our ears
How music changes through the years

Dalam bait di atas menggambarkan kita terlalu banyak melihat televisi, hingga kita perlu sesekali menggunakan telinga kita mendengarkan musik yang berubah dari jaman ke jaman.

pose terkenal dalm klip Radio Ga Ga

Lagu Radio Ga Ga ini sangat fenomenal. Banyak menginspirasi orang memakai kata-kata Radio Ga Ga, Bahkan penyanyi kontroversial Lady Gaga menggunakan nama panggungnya dengan merujuk pada lagu ini karena dia memuja Queen dan Freddie Mercury. Di beberapa negara ada stasiun radio yang menyebut diri mereka Radio Gaga, di Indonesia juga pernah muncul di film Olga dan Sepatu Roda yang disinetronkan oleh RCTI sebagai stasiun radio tempat Olga menjadi penyiarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar